Selintas Gua Maria Jatiningsih

Kota Jogja selain sebagai Kota pelajar  juga sebagai Kota Pariwisata. Wisata Rohani di Jogja juga berkembang. Selain Jogja mempunyai Gua Maria Sendangsono yang dikenal sebagai Lourdesnya Indonesia juga mempunya Gua Maria Jatiningsih.

Gua Maria Sendang Jati(ning)sih yang berarti Sumber air dari rahmat Tuhan yang sungguh sungguh mendatangkan kedamaian, ini menjadi salah satu pilihan bagi siapa saja yang ingin melepaskan dahaga rohaninya.

Seiring dengan pewartaan di era digital ini kami mencoba menulis kembali Selintas tentang Gua Maria Jatiningsih yang kami ambil dari tulisan Mas Bayu Conan. Tulisan asli bisa diliht di tautan dalam akhir artikel ini.

Konon awal mulanya pembangunan gua yang semula bernama Sendang Pusung (Sing ngapusi busung = Siapa yang berbohong akan terkena tulahnya) nama yang diambil dari nama asli tempat atau lokasi di mana Gua Maria dibangun ini merupakan cerita panjang dari perkembangan Gereja Katolik di daerah Klepu, khususnya di Dusun Jitar, Pingitan. Cerita gua yang juga bernama Sendang Jatiarum karena letakknya berada di bawah rimbunan pepohonan jati di desa Sumberarum ini berawal dari sejarah Gereja Katolik di tahun 1952.

Kebanyakan dari masyarakat Dusun Jitar Pingitan pada mulanya belum memeluk satu agama. Mereka masih abangan atau boleh dibilang masih menganut kejawen. Namun sekitar tahun 1950-an anak-anak mereka yang memeluk agama Katholik sukses dalam pendidikan dan mempunyai pekerjaan yang mapan. Rupanya kesuksesan anak-anak ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangtua mereka untuk kemudian menjadi Katholik.

Kisah itu bermula dari dibaptisnya FX Dikin di Gereja St Petrus dan Paulus Klepu pada Desember 1952. Dikin ketika itu masih duduk di kelas V SD Kanisius Ngapak. Setahun kemudian (1953), bulan April, jejak Pak Dikin disusul empat rekannya yaitu Ignasius Tentrem, P. Sapardi, B. Semin, dan Taryono. Mereka inilah yang menjadi pionir berkembangnya agama Katholik di Jitar, Pingitan. Setelah dibaptis, P. Sapardi memelopori berdirinya Lingkungan Jitar Pingitan. Pelajaran agama Katholik dilakukan Sapardi saban malam Jumat. Lambat laun umat di lingkungan semakin bertambah.

Berbagai kegiatan kesenian tradisional seperti wayang orang, ketoprak, karawitan, tari kreasi baru, bahkan selawatan merupakan sarana pewartaan yang dimanfaatkan para muda-mudi ketika itu. Mereka tak segan-segan menambah label Katholik di belakang nama kegiatan mereka, seperti wayang orang Katholik, ketoprak pemuda Katholik, dan seterusnya. Rupanya karena semakin banyak masyarakat yang masuk Katholik dan belum ada tempat ibadat itulah yang mendorong Ignatius Purwowidono menghibahkan tanahnya seluas 200-m² yang bersebelahan dengan rumahnya untuk didirikan kapel bagi umat Lingkungan Jitar Pingitan. Berkat perjuangan dan jerih payah kaum muda ini pada tahun 1984 hampir semua orangtua di Dusun Jitar dan Pingitan ingin belajar agama Katholik secara intensif.

Tanah hibahan Purwowidono itu ternyata tidak jadi untuk kapel. Menurut pastor paroki ketika itu jarak antara Dusun Jitar Pingitan dan Gereja Paroki hanya 2,½-km. Karenanya, bersama Br Yosefat FIC, umat kemudian membangun tempat ibadat yang beratapkan langit. Karena recana tempat ibadat yang beratapkan langgit itu, maka Purwowidono kemudian menukarkan tanah seluar 200-m² di samping rumahnya dengan tanahnya yang terletak di tepi Kali Progo seluas 800-m². Dengan swadaya umat perlahan tempat ibadat itu mulai dibangun sedikit demi sedikit.

sumber: Gua Maria Sendang Jatiningsih Yogyakarta

Demikianlah proses perjalanan Gua Maria ini. Di tempat ibadat beratapkan langit itu umat semula merencanakan untuk membuat gua kecil dan menempatkan sebuah patung kecil setinggi 30-cm. Namun setelah bermusyawarah, umat akhirnya memutuskan membuat sebuah gua yang lebih besar dan menempatkan patung berukuran 165-cm di dalamnya. Secara swadaya umat mulai membangun gua pada 1-Mei-1986. Mereka mendatangkan batu gua putih yang banyak berlubang dari Gunungkidul, Wonosari.

Patung Bunda Maria dibuat seorang pematung dari Muntilan. Patung itu ditahtakan pada 15-Agustus-1986, diberkati Romo Mardi Kartono SJ sebulan kemudian, tepatnya tanggal 8-September. Sejak itulah Sendang Jatiningsih mulai ramai dikunjungi banyak peziarah. Di gua ini pulalah tercatat sejarah 169 orangtua yang mulai belajar Katolik sejak tahun 1984, dibaptis Romo Mardi Kartono SJ dan Romo Grounwuth SJ. Di sini pulalah banyak peziarah datang bersujud di kaki Bunda Maria. Mereka menimba air kehidupan dan mencari keheningan untuk menemukan Dia!.

Pada hari minggu tanggal 27 Oktober 2002, umat Paroki Klepu mengadakan misa bersama Mgr J. Sunarka SJ di Gua Maria Sendang Jatiningsih sebagai syukur atas ditemukannya sumber mata air baru, Tirto wening banyu panguripan = air kehidupan, letaknya persis di belakang Gua Maria. Penemuan sumber mata air baru oleh Mgr Sunarka yang adalah putera Paroki Klepu ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sejarah Gua Maria ini.

Sebuah perjalanan yang tentunya bukan suatu kebetulan namun yang pasti semua itu pasti ada campur tanagan Tuhan sehingga semua itu dapat terjadi seperti itu. Kini Gua Maria Jatiningsih sudah kian berkembang menjadi salah satu tujuan wisata rohani di Jogja. Nuansa suara gemericik air sungai progo membuat sebagaian umat merasa tentram berdoa di Gua Maria Jatiningsih.

foto koleksi pribadi WELL PROJECT management

Demikian selintas Gua Maria Jatiningsih yang dibagikan kembali oleh Peyek Jogja DOTcom sebagai ungkapan syukur atas terkabulnya doa-doa kami di Gua Maria Jatiningsih.

By Dimas Hery | Peyek Jogja DOTcom

Tidak ada komentar :

Posting Komentar